Aku sangat senang dan antusias ketika tahu Eco Blogger Squad kembali mengadakan Online Gathering! Acara gathering komunitas ini selalu menjadi momen yang kami nanti-nantikan karena bukan sekadar wadah silaturahmi antar blogger, tetapi juga tempat menimba ilmu, bertukar ide, dan menyerap sejuta inspirasi seputar isu kelestarian lingkungan hidup. Pada Online Gathering kali ini, kami diajak belajar tentang Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat yang dibawakan oleh Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve. Satu insight penting yang kudapatkan adalah tentang hubungan yang sangat dekat antara hutan, pangan, perempuan, dan kehidupan masyarakat pesisir. Hutan mangrove tidak hanya bentang alam penahan abrasi atau pelindung ekosistem, tetapi buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal yang bernilai ekonomi. Inilah Mangrove, Pala, dan cerita pangan yang ada di sekitar kita.
Aku mendengar pengalaman masyarakat Kampung Friwen di Raja Ampat. Di sana, masyarakat tidak hanya berusaha memulihkan kawasan mangrove yang mengalami kerusakan, tetapi juga belajar memanfaatkan sumber daya mangrove sebagai pangan lokal dan sumber ekonomi. Perempuan pun memiliki peran penting, mulai dari pengolahan pangan, berkebun dan mencari hasil laut hingga terlibat dalam perlindungan kawasan mangrove.
Dari sinilah aku berpikir, ternyata sumber pangan bisa berada begitu dekat dengan kehidupan kita. Hanya saja, mungkin selama ini kita belum benar-benar memperhatikannya.
Mangrove Adalah “Napas Kehidupan” Masyarakat Pesisir
Cerita ini bermula dari keresahan masyarakat adat Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser pada 2018. Hutan mangrove mengalami degradasi akibat pengambilan kayu, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan homestay dan resort.
Sebagai respons, masyarakat mulai melakukan pemetaan partisipatif, mengidentifikasi jenis mangrove. Tercatat 16 jenis mangrove sejati dan 28 jenis asosiasi, serta memberikan pelatihan pengolahan mangrove menjadi bahan pangan lokal.
Pada 2019, tingkat kerusakan Mangrove Doredor disebut mencapai 57% atau sekitar 133 hektare dari total 233 hektare, yang dalam materi dikaitkan dengan kebutuhan kayu untuk industri pariwisata Raja Ampat. Padahal, Mangrove Doredor merupakan wilayah adat yang dijaga masyarakat Kampung Friwen sekaligus menjadi area penting pemijahan ikan di Selat Dampier.
Ini memberikan satu pelajaran menarik bagiku yaitu: pariwisata dan pembangunan ekonomi tetap harus memperhatikan lingkungan.
Masyarakat Tidak Berhenti Pada Masalah, Tetapi Melakukan Restorasi
Masyarakat kemudian melakukan pembibitan, persemaian, dan penanaman kembali mangrove di kawasan yang rusak. Mangrove juga mulai dilihat sebagai sumber pangan lokal, sumber ekonomi, jasa lingkungan, hingga bagian dari program adopsi mangrove bagi wisatawan. Upaya restorasi yang dilakukan sejak 2019–2023 kemudian diikuti proses pengelolaan melalui skema Perhutanan Sosial.
Perempuan Menjadi Bagian Penting Dari Ketahanan Pangan
Sekitar 90% perempuan menggantungkan kehidupannya pada wilayah pesisir, dengan aktivitas antara lain memanfaatkan mangrove sebagai pangan dan etnobotani, mengambil daun untuk tikar, berkebun, serta mencari ikan dan kerang.
Perempuan juga aktif dalam KUPS pengolahan mangrove, agroforestri, kerajinan tangan, kelompok patroli, dan Pokja Perempuan Perlindungan Mangrove.
Aktivitas ekonomi yang dikembangkan cukup beragam, mulai dari mengolah mangrove menjadi pangan lokal, membuat sabun mangrove, VCO dan minyak kelapa, menjual sayuran kepada homestay dan resort, hingga membuat anyaman dan kerajinan tangan. Mereka juga ikut melakukan patroli kawasan hutan desa dan pertemuan rutin untuk perlindungan mangrove.
Jadi, perempuan di sini bukan sekadar penerima manfaat program. Mereka menjadi pelaku dalam menjaga hutan sekaligus mengolah sumber daya yang tersedia menjadi pangan dan sumber pendapatan.
Di Raja Ampat, hutan bukan sekadar bentang alam. Bagi masyarakat kampung, hutan adalah ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus warisan untuk generasi berikutnya.
Ketika Pangan Lokal Juga Menjadi Oleh-Oleh dan Peluang Ekonomi
Setelah mendengar cerita tentang mangrove di Raja Ampat, aku teringat dengan satu pulau cantik yang sering aku kunjungi Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Pulau Lemukutan.
Beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke Pulau Lemukutan, aku banyak melihat pohon pala. Bahkan buah-buah pala yang sudah matang berjatuhan di sekitar pohonnya. Masyarakat di Pulau Lemukutan mengolahnya menjadi berbagai produk pangan, seperti manisan, sirup pala yang kemudian dijual sebagai oleh-oleh khas Pulau Lemukutan kepada wisatawan.

Menurut profil Desa Wisata Pulau Lemukutan, sekitar 70 persen wilayah desa merupakan tanah perkebunan rakyat dengan tanaman seperti cengkeh, kelapa, dan pala. Penelitian mengenai potensi wisata alam Pulau Lemukutan juga mencatat pala sebagai salah satu tanaman tahunan yang banyak dijumpai di kebun masyarakat dan menyebut pala bersama cengkeh sebagai komoditas unggulan yang dapat tumbuh dengan baik di pulau tersebut.
Di Lemukutan, pohon-pohon pala menjadi bagian dari lanskap perkebunan rakyat bersama kelapa, cengkeh, dan berbagai vegetasi lainnya.
Pohon pala yang rindang juga membentuk ruang hijau yang menjadi bagian dari lanskap pulau. Bahkan penelitian mengenai lanskap Lemukutan merekomendasikan agar pepohonan buah dan pohon-pohon tua yang masih dalam kondisi baik tetap dipertahankan karena memiliki nilai historis sekaligus membantu mempertahankan ruang hijau.
Di daerah lain di Indonesia, pala juga banyak dikembangkan dalam sistem agroforestri, yaitu ketika pohon pala tumbuh bersama jenis tanaman lainnya. Penelitian mengenai agroforestri berbasis pala menunjukkan sistem seperti ini memiliki potensi mendukung konservasi tanah dan air.
Di sinilah aku melihat fungsi pertama pala: Sebagai tanaman tahunan yang menjadi bagian dari lanskap hijau dan kebun masyarakat. Lalu ada fungsi kedua: Pala adalah sumber pangan.
Satu Buah Pala, Banyak yang Bisa Dimanfaatkan
Selama ini ketika mendengar pala, kita lebih dulu membayangkannya sebagai rempah. Ternyata kalau satu buah pala dibuka, ada beberapa bagian yang bisa dimanfaatkan. Ada daging buah, ada fuli, lapisan berwarna merah yang membungkus bijinya, dan tentu saja ada biji pala.
Biji dan fuli dapat dikeringkan dan dimanfaatkan sebagai rempah serta bahan berbagai produk. Sementara daging buahnya dapat diolah menjadi manisan, sirup, selai, dodol hingga sari buah.

Masyarakat Pulau Lemukutan Mengolah Pala Menjadi Pangan.
Salah satunya adalah sirup pala yang tercatat sebagai produk suvenir Desa Wisata Pulau Lemukutan. Sirup tersebut dibuat dari buah pala segar yang diolah dengan gula dan memiliki aroma khas pala.
Selain sirup, pala Lemukutan juga telah dikenal menjadi manisan. Kepala Desa Pulau Lemukutan bahkan menyebut pala dan produk olahannya sebagai salah satu potensi desa yang masih perlu terus dikembangkan agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

(Foto: RRI/Syahrul Sani)
Buah yang pernah aku lihat tumbuh dan berjatuhan di sebuah pulau ternyata bisa berpindah dari kebun masyarakat ke dapur, kemudian berubah menjadi minuman dan makanan, lalu menjadi produk lokal yang dapat dibawa pulang wisatawan.
Ketika Pangan Lokal Juga Menjadi Peluang Ekonomi
Pada cerita perempuan di Kampung Friwen, Raja Ampat mangrove tidak hanya dijaga, masyarakat belajar mengolah sumber daya yang tersedia menjadi produk pangan dan sumber penghasilan.
Di Pulau Lemukutan, pohon pala menghasilkan buah, buah di panen, daging buah yang mungkin sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi manisan atau sirup. Biji dan fulinya pun memiliki nilai sebagai rempah. Kemudian produk olahan tersebut dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke Lemukutan. Satu pohon dapat memberikan lebih dari satu manfaat.
Aku belajar tentang hubungan tentang alam yang dijaga, pengetahuan masyarakat, dan kemampuan mengolah hasil alam.
Pohon buah pala menjadi bagian dari lanskap hijau perkebunan masyarakat, menghasilkan bahan pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Dari mangrove Raja Ampat dan pala Pulau Lemukutan, aku belajar bahwa sumber pangan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang ia tumbuh tepat di sekitar kehidupan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan untuk mengenal, mengolah, dan menjaganya.
Menjaga alam bukan hanya tentang mempertahankan sesuatu agar tetap hijau. Tetapi juga tentang menjaga agar pengetahuan, sumber pangan, dan manfaat yang tumbuh bersamanya tetap bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.
Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan yang sekarang aku pahami dengan cara yang lebih luas.
Sumber:
– Online Gathering Eco Blogger Squad: Eco Blogger Squad x TAF
– https://jadesta.kemenpar.go.id/paket/syrup_buah_pala
– https://rri.co.id/pontianak/regional/1940229/lemukutan-dorong-produk-pala-dan-rumput-laut-unggul
– https://jurnal.uncri.ac.id/index.php/MSJ/article/view/34

