Hari itu aku menerima chat WhatsApp dari Bang Setra, Ketua Yayasan WeBe Konservasi Ketapang. Yayasan ini bergerak di bidang konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Kalimantan Barat. Fokus utamanya adalah pada program-program yang berkaitan dengan pendidikan lingkungan, konservasi, dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat setempat. Yayasan WeBe Konservasi Ketapang sering kali bekerja sama dengan institusi seperti BRIN dan Murdoch University dalam program penelitian di Kalimantan Barat, seperti program KONEKSI.

Santai sore di Murraya Hills Singkawang (kika: Luqinul, Fian, Bang Setra, Multi, Charis)
Di kesempatan kali ini aku diberikan amanah untuk bergabung sebagai team survei sosial Yayasan WeBe Konservasi Ketapang bersama Luqinul dan Fian. Aku pikir, “Ah, seru nih, bisa healing di alam!.
Tentu saja aku mengiyakan. Karena menjadi Eco Blogger menulis saja tidak cukup, tetapi juga tentang memahami ekosistem yang menopang kehidupan kita. Aku ingin terjun langsung, berbicara dengan masyarakat, dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di garis depan konservasi.
Diajak sebagai tim survei sosial untuk menjelajahi mangrove dan lamun di pesisir Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Mempawah? gass kan!.
Aku tahu, pengalaman ini akan menjadi lebih dari sekadar perjalanan. Ini adalah kesempatan untuk belajar langsung dari alam dan dari mereka yang berjuang menjaganya setiap hari.
Menyapa Akar Kehidupan
Hari pertama dimulai dengan perjalanan menuju lokasi survei Desa Sungai Raya dan Sungai Keran Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang. Kami bertemu dengan Kepala Desa dan masyarakat untuk mendengar bagaimana kehidupan mereka sangat bergantung pada laut.
Dari percakapan itu aku belajar, konservasi tidak akan berhasil tanpa melibatkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam setiap hari.
Kami juga berbicara dengan ibu-ibu kelompok wanita pesisir yang membuat olahan dari hasil laut, seperti ikan asin, dan kerupuk ikan. Mereka menyambut dengan senyum lebar dengan teh hangat dan menunjukkan ikan asin hasil olahan yang aromanya langsung menghapus lelah.
Mereka mendukung kegiatan konservasi karena sadar, laut yang sehat berarti dapur mereka tetap berasap. Melihat semangat mereka, aku merasa bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya urusan ilmuwan, tapi urusan bersama.

Pohon mangrove yang disulap jadi pohon topiari
Hari kedua kami melanjutkan perjalanan ke Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang. Setiap cerita dan harapan masyarakat membuka mataku tentang hubungan manusia dengan laut. Tentang peran kecil yang bisa kita lakukan, dan tentang betapa rapuhnya ekosistem yang menopang hidup kita.
Menyelami Dunia Lamun
Hari berikutnya, kami melanjutkan survei ke Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang. Kami berangkat pagi-pagi dari dermaga di Teluk Suak menuju Pulau Lemukutan. Kapal yang kami tumpangi bergoyang halus, melaju pelan, udara terasa asin, lembap, namun menyegarkan.
Setelah satu jam perjalanan, kami tiba di penginapan di Pulau Lemukutan. Tim yang bertugas turun ke air dangkal lengkap dengan peralatan snorkeling. Mereka mengamati tanaman laut di bawah permukaan air. Bang Setra, Pak Kardi, Qinul dan aku melakukan kegiatan wawancara sosial.
Dengan menggunakan sepeda motor kami keliling Pulau Lemukutan dari dusun kedusun. Kami bertemu dengan nelayan, ibu-ibu yang sedang menjemur ikan teri, dan warga yang tinggal di Pulau Lemukutan.
Lamun punya peran luar biasa yaitu menyerap karbon lebih banyak daripada hutan tropis di darat. Namun ironisnya, banyak orang bahkan tidak tahu lamun itu apa. Banyak padang lamun rusak karena jangkar kapal, limbah, dan aktivitas manusia.
Aku juga sempat mendokumentasikan keindahan Pulau Lemukutan. Dari lensa smartphone yang kugunakan menangkap pemandangan yang luar biasa, terumbu karang juga masih terjaga.

Foto bersama setelah mengamati lamun di bawah steher di Melanau Barat, Pulau Lemukutan. (kika: Multi, Bang Setra, Qinul, Pak Kardi)
Kami melanjutkan kegiatan di Pulau Temajo, Kabupaten Mempawah di hari berikutnya. Dari jauh, akar-akar bakau terlihat seperti jari-jari raksasa yang sedang merangkul bumi. Indah tapi juga misterius, seperti punya rahasia yang ingin disampaikan.
Tim yang bertugas memulai survei vegetasi mengukur diameter batang, menghitung dan mencatat spesies yang ditemukan.

Tim Rekam Nusantara Mona, Nicky, Jordi, dan Ales mengamati lamun dan mangrove di Pulau Temajo, Kabupaten Mempawah
Di sela-sela itu, aku mengamati pohon mangrove yang tinggi menjulang, dan suara ombak kecil yang menenangkan.

Hutan Mangrove di Pulau Temajo, Kabupaten Mempawah
Setelah setengah hari melakukan kegiatan survei dan pendataan, saatnya makan siang. Kami semua duduk bersama, berbagi nasi kotak dan cerita. Sayang sekali aku gak sempat foto karena memang sudah lapar. Padahal biasanya aku paling rajin urusan dokumentasi. Tapi kali ini, lapar mengalahkan konten.
Tantangan yang Masih Panjang
Tentu tidak semua cerita indah. Di beberapa lokasi, kami menemukan limbah plastik yang terbawa arus dan tersangkut di akar-akar bakau juga sampah yang dibuang ke laut. Pemandangan itu mengingatkanku bahwa konservasi bukan perjalanan singkat, tetapi perjuangan panjang.
Namun aku juga percaya, langkah kecil bisa membawa perubahan besar. Komunitas lokal kini mulai sadar pentingnya menjaga pesisir. Beberapa bahkan menjadikan kawasan mangrove sebagai destinasi wisata edukasi, tempat di mana pengunjung bisa belajar menanam dan mengenal fungsi ekosistem.
Itulah bentuk ekowisata yang sesungguhnya, kegiatan yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan alam.
Kesimpulan
Mangrove bukan sekadar tumbuhan, melainkan benteng alami yang menahan abrasi. Lamun bukan sekadar rumput laut, tapi paru-paru laut yang menyimpan karbon dan menopang kehidupan biota. Masyarakat pesisir merupakan mitra utama dalam menjaga keberlanjutan alam.
Ketika kapal motor kami kembali ke dermaga aku kembali melihat hutan bakau di kejauhan dan berbisik dalam hati, “Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal.”
Aku ingin terus menulis, terus menyuarakan, agar semakin banyak orang peduli pada laut dan pesisir kita. Karena menjaga alam bukan sekadar tren, melainkan tanggung jawab moral kita sebagai manusia.
Semoga suatu hari nanti, ketika generasi setelah kita datang ke tempat yang sama, mereka masih bisa melihat akar mangrove yang kuat dan lamun yang menari di bawah laut seperti yang kami lihat hari itu.


