Bengkayang

Mengenal Nyobeng Sebujit, International Dayak Bidayuh Festival

Indonesia memiliki kekayaan dan keberagaman budaya, bahasa daerah, suku, agama, kepercayaan dan banyak kebudayaan lainnya. Kali ini aku mau cerita salah satu kekayaan budaya yang ada di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Nyobeng Sebujit, International Dayak Bidayuh Festival namanya. Ini pertama kalinya aku menyaksikan langsung Nyobeng Sebujit, festival budaya di perbatasan Indonesia-Malaysia. Terima kasih kepada Tim Matu’ano Borneo Traveling yang sudah mengajakku menyaksikan festival budaya Nyobeng.

Apa itu Nyobeng

Nyobeng sebenarnya berasal dari kata Nibakng. Nibakng merupakan kegiatan ritual yang dilakukan setiap tahunnya untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan, dalam bahasa suku Dayak Bidayuh Tipaiakng atas hasil panen padi suku Dayak Bidayuh. Tidak hanya itu saja, Nibakng juga merupakan ritual untuk menghormati benda pusaka yaitu tengkorak kepala manusia hasil mengayau dulu yang ada di Baluk rumah Adat Suku Bidayuh. Sekarang mengayau sudah tidak dilakukan lagi. Tujuan dari Nyobeng adalah ucapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen padi masyarakat suku Dayah Bidayuh.

Nyobeng Sebujit, International Dayak Bidayuh Festival dilaksanakan tanggal 14-16 Juni 2019 di Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Waktu tempuh perjalanan dari Kota Singkawang ke Kampung Sebujit sekitar 6 jam naik motor.

nyobeng sebujit international dayak bidayuh festival

Tahapan Ritual Nyobeng

Rombongan Tim Matu’ano Borneo tiba di Sebujit Hari Jumat, 14 Juni 2019. Kami langsung menuju rumah ketua adat, Pak Amin. Pak Amin dan keluarga sangat ramah menyambut kami. Sudah tersedia makanan khas Sebujit seperti lemang, kue tumpi, minuman kopi, teh dan tuak yang disajikan untuk tamu-tamu yang datang ke rumah ketua adat.

makanan khas sebujit

Kue Tumpi

Hari kedua (15 Juni 2019) Ritual Nyobeng ini dilakukan dalam beberapa tahap. Akupun mengikuti tahap demi tahap untuk melihat ritual lebih dekat.

1. Ritual Paduapm
Tepat jam 4 subuh aku dibangunkan oleh tim Matu’ano Borneo untuk melihat ritual. Ritual Paduapm (bahasa suku Dayak Bidayuh) dipusatkan di rumah Baluk yang dipimpin oleh ketua adat, Pak Amin. Ritual ini berarti untuk mengundang atau memanggil roh-roh para leluhur untuk datang dalam ritual Nyobeng serta sekaligus meminta izin atas ritual yang akan dilaksanakan. Tujuannya supaya semuanya berjalan dengan baik dan mendapat berkat dari para leluhur.

2. Ritual Nabuai

Ritual Nabuai atau menyambut tamu yang datang ini dilakukan sekitar jam 10 pagi. Tamu disambut di batas desa. Dulu penyambutan ini dilakukan untuk menyambut anggota kelompok yang datang dari mengayau. Para penyambut menggunakan kain merah yang diselempangkan dan dipasang seperti membentuk celana. Dilengkapi dengan hiasan kalung manik-manik dari gigi binatang hasil buruan, sumpit, mandau dan senapan lantak. Senapan ini dibunyikan ketika para tamu undangan memasuki batas desa. Sambil berseru uuuuuuuuu sumpit dan Mandau diacungkan ke atas bersama-sama.

ritual penyambutan tamu nyobeng sebujit

Tamu Undangan

Seruan serta letupan senapan lantak ini bertujuan untuk memanggil dan memohon izin kepada roh para leluhur untuk melaksanakan ritual Nyobeng. Rombongan ketua adat dan para tetua-tetua adat datang dari rumah Baluk ke perbatasan desa untuk menyambut tamu undangan. Seluruh persiapan sesajian sudah dibawa.

Pada ritual ini membuat mataku hampir tidak berkedip tatkala melihat ketua adat melemparkan anak anjing kemudian perwakilan tamu kehormatan harus menebas kepalanya dengan Mandau hingga mati. Kedua ketua adat melemparkan anak ayam dan perwakilan tamu yang kedua melakukan yang sama yaitu menebas kepalanya hingga mati. Jika ayamnya kabur atau belum mati, harus dikejar sampai dipastikan ayam tersebut benar-benar mati.

Setelah itu, tetua adat perempuan yang berpakaian adat lengkap datang dengan membawa telur lalu melemparkan telur tersebut ke dada tamu kehormatan satu persatu. Makna dari melempar telur ini adalah, jika telur pecah di badan tamu berarti tamu undangan datang dengan hati yang ikhlas dan niat yang baik. Sebaliknya, jika telur ayam tidak pecah, maka tamu undangan yang datang dianggap tidak berniat tulus.

ritual melempar telur nyobeng sebujit

Selanjutnya beras putih dan kuning dilemparkan tetua-tetua adat sambil membaca mantra. Tampak gadis-gadis Sebujit menawarkan dan menyuguhkan tuak untuk diminum. Selesai minum, rombongan tamu diantar menuju rumah Baluk, tempat upacara ritual. Para tetua adat berjalan di depan sambil menari dengan diiringi musik untuk mengiringi rombongan tamu sampai ke rumah Baluk.

Memasuki tempat upacara ritual, rombongan diperciki air yang telah diberi mantra menggunakan daun anjuang. Tujuannya sebagai tolak bala, agar para tamu terhindar dari bencana. Kemudian masuk depan area rumah Baluk para tamu harus menginjak buah kundur dan batang pisang yang telah di belah disimpan dalam baskom. Ritual ini dikenal dengan ritual pepasan.

Para tamu, warga dan tetua adat bersama-sama menari tarian simaniamas sambil mengitari rumah Baluk. Alunan musiknya lembut dan santai. Aku sendiri suka mendengar musik ini. Simaniamas adalah tarian untuk menyambut dan menghormati para pembela tanah leluhur yang baru datang dari mengayau. Tetua-tetua adat mengiringi sambil berseru uuuuuuuu beberapa kali seraya membaca mantra-mantra.

Ketua adat dan para tetua adat lainya masuk ke rumah Baluk. Tamu kemudian dipersilahkan untuk menikmati jamuan makanan hasil bumi seluruh penduduk Sebujit sambil beristirahat di balai-balai.

3. Panjat Aur Terbalik


Salah satu acara Nyobeng Sebujit yang unik adalah Panjat Bambu atau dalam bahasa Bidayuh Panjat Aur Terbalik. Tidak seperti pada acara 17an yang lazimnya menggunakan pinang. Tiang untuk dipanjat menggunakan bambu tua yang kokoh. Sebelum dipanjat, bambu tersebut diberi mantra-mantra oleh tetua-tetua adat. para pemanjat juga diperciki air dengan daun anjuang. Kemudan semua peserta harus mengitari tiang bambu sambil menari. Lalu Si pemanjat harus bergerak dengan posisi terbalik hingga mencapai puncak.

Awal dari panjat aur terbalik ini, konon ketika seorang dukun ingin menyembuhkan orang yang sakit. Sang dukun harus melakukan ritual yaitu memanjat pohon dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Tujuannya untuk mengambil obat di atas pohon guna menyembuhkan orang yang sakit.

Panjat Aur terbalik ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur atas jasa yang diberikan dan kemampuan dukun tersebut. Namun, tujuannya bukan untuk berobat melainkan untuk hiburan atau permainan tradisional pada saat gawai.

4. Ritual Cuci Tengkorak
Pada tahun ini ritual cuci tengkorak hanya bisa dilakukan oleh ketua adat dan tetua-tetua. Masyakat tidak diperbolehkan untuk melihat secara langsung.

5. Ritual Mandi


Ritual ini dilakukan sekitar jam 7 malam. Semua orang sudah berkumpul di balai di bawah rumah Baluk untuk melihat ritual Mandi. Di tengah-tengah sudah terletak sebuah tempayan yang dikelilingi sesajen. Satu persatu tetua adat, warga dan masyarakat yang datang berbaris untuk mendapatkan air Mandi. Air dari dalam tempayan yang sudah diberi mantra kemudian dialirkan melalui pelepah bunga kelapa untuk menyirami kepala orang-orang yang berbaris. Kemudian tetua akan mengusap wajah dan telinga serta memukul-memukul kaki, tangan, badan dengan daun anjuang yang sudah dicelupkan air di dalam tempayan.

ritual air mandi festival nyobeng

Ritual menyiapkan Air Mandi

5. Ritual Penutup

Pada ritual terakhir dilakukan pada jam 10 malam (15 Juni 2019) di rumah Baluk. Ketua adat dan para tetua naik ke atas rumah Baluk untuk melakukan ritual. Aku juga ikut naik ke atas. Di dekat perapian sudah disiapkan seekor babi yang terikat sebagai korban persembahan. Para tetua adat sambil berseru-seru serta mengacungkan Mandau ke atas sambil membaca mantra-mantra. Setelah semua sesajen lengkap, Sibakng di pukul sebanyak tujuh kali sebagai tanda dimulainya ritual. Kemudan bersama-sama tetua adat langsung menusukkan Mandau yang di pegang kearah babi yang di jadikan kurban persembahan. Darah babi mengalir, tetua adat mengambil darah itu menggunakan tangan lalu menaruhnya di dalam mangkok kecil. Sementara hati babi di bakar diperapian yang sebelumnya sudah dipersiapkan.

Ketua adat naik ke tingkat paling atas rumah Baluk yang merupakan tempat penyimpanan tengkorak kepala manusia hasil mengayau. Setelah selesai melakukan ritual para tetua adat turun. Para tamu dan masyarakat yang ikut menyaksikan ritual ini satu-persatu turun meninggalkan tempat ritual rumah Baluk. Ritual selesai, Iring-iringan musik simaniamas harus terus dimainkan.

Dengan begitu berakhir sudah ritual Nyobeng memandikan tengkorak kepala manusia hasil mengayau yang di lakukan di dalam rumah Adat Baluk.

Banyak masyarakat yang menyaksikan ritual ini, mereka berasal dari daerah sekitar Bengkayang dan juga dari negara tetangga Malasyia. Kearifan lokal yang bersahabat membuatku nyaman berada di kampung ini. Meskipun sedikit menyeramkan dan menegangkan bagi sebagian orang. Inti dari Ritual Nyobeng ini sebenarnya adalah perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas berkat yang melimpah. Ketua adat juga berpesan kepada anak-anak muda di Kampung Sebujit agar terus melestarikan budaya warisan nenek moyang secara turun temurun ini.

Semoga budaya ini terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada seluruh lapisan masyarakat di Kalimantan Barat, Indonesia, bahkan di Internasional.

Paket Wisata Budaya Nyobeng Sebujit

Tertarik ingin menyaksikan festival budaya di Kalimantan? Teman-teman bisa menghubungi Matu’ano Borneo Travelling di kontak di bawah ini. Matu’ano (yang berarti matahari) Borneo Travelling adalah komunitas wisata khusus budaya yang ada di Kalimantan.

Kontak Matu’ano Borneo :
Whatsapp Om Marsuki : 0813 8332 9290
Whatsapp Bunda Matu’ano : 0856 5231 9854

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner